main-logo
  • MARKET
  • MACRO
  • FINANCIAL
  • BUSINESS
  • NATIONAL
  • ESG
  • /assets/images/resources/dasawindu-indonesia-merdeka.png
  • INTERNATIONAL
  • FINANCIALTRUST
  • INDEPTH
  • LIFESTYLE
  • FOTO
logo datatrust
Pita Tracker By Trading View
‌
‌
‌
‌
‌
‌
‌
‌
‌
‌
‌
‌
‌
‌
‌
‌
‌
  • ‌
    ‌
    ‌
  • ‌
    ‌
    ‌
  • ‌
    ‌
    ‌
  • ‌
    ‌
    ‌
  • ‌
    ‌
    ‌
The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

KATEGORI
  • MARKET
  • MAKRO
  • FINANCIAL
  • BUSINESS
  • NATIONAL
  • ESG
  • INTERNATIONAL
  • FINANCIALTRUST
  • INDEPTH
  • LIFESTYLE
MEDIA
  • PHOTO
  • VIDEO
INFORMASI
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN KAMI
  • PUBLISHING
  • KONTAK
PUBLIKASI
  • BUKU

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024
logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024
Bagikan
  1. Home
  2. macro

Anggota DEN Paparkan Usulan dan Hambatan Revisi Garis Kemiskinan Indonesia

 

 

JAKARTA, investortrust.id - Anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Arief Anshory Yusuf memaparkan sejumlah tantangan yang dihadapi pemerintah untuk mengubah garis kemiskinannya. 

 

“Pertama, kekhawatiran politisasi terhadap lonjakan angka kemiskinan,” kata Arief kepada investortrust.id, Selasa (10/6/2025).

 

Selain masalah politisasi, hambatan lain revisi garis kemiskinan Indonesia juga berhubungan dengan anggapan akan naiknya anggaran perlindungan sosial. Meski begitu, menurut Arief, dua hal tersebut dapat diatasi dengan edukasi publik yang baik.

 

“Dan pemisahan antara indikator statistik dan basis sasaran program sosial,” ujar dia.

 

Baca Juga

Pemerintah Belum Berniat Revisi Standar Garis Kemiskinan Nasional

 

Arief mengatakan Badan Pusat Statistik (BPS) dan kementerian terkait sedang dalam proses menyempurnakan metodologi garis kemiskinan. Harapannya, dalam waktu dekat, pemerintah akan memiliki acuan baru yang lebih mencerminkan realitas.

 

Arief mengusulkan acuan garis kemiskinan yang baru idealnya dimulai dengan mengadopsi standar negara berpendapat menengah bawah dari Bank Dunia yakni US$ 4,2 PPP per orang per hari atau sekitar Rp 765.000 per bulan.

 

“Angka ini lebih tinggi dari garis kemiskinan nasional saat ini yang sebesar Rp 595.000, namun masih jauh lebih rendah dari standar negara menengah atas sebesar Rp 1,5 juta,” kata dia.

 

Menurutnya, dengan angka garis kemiskinan sebesar Rp 765.000 per bulan, pemerintah dapat tetap realistis dan bertahap mengentaskan kemiskinan. Angka kemiskinan dapat naik sekitar 20%.

 

“Tapi ini akan lebih mencerminkan kondisi sebenarnya di masyarakat dan membuka ruang kebijakan yang lebih akurat,” jelas dia.

ARTIKEL POPULER

      BERITA TERKAIT

      • Anggota DEN Paparkan Usulan dan Hambatan Revisi Garis Kemiskinan Indonesia

        10/06/2025, 22.28 WIB
      • Anggota DEN Paparkan Strategi Indonesia dalam Negosiasi Tarif Resiprokal AS

        14/05/2025, 14.18 WIB
      • Pemerintah Belum Berniat Revisi Standar Garis Kemiskinan Nasional

        10/06/2025, 12.45 WIB
      • Jubir PCO Belum Menerima Sikap Presiden soal Revisi Garis Kemiskinan WB

        10/06/2025, 11.39 WIB
      • BPS: Indonesia Sudah Ikuti Standar Garis Kemiskinan Ekstrem

        30/04/2025, 16.26 WIB