Harga Minyak Naik Tajam karena Sinyal Positif Inflasi AS dan Pemangkasan Tarif
NEW YORK, investortrust.id - Harga minyak mentah global melonjak pada perdagangan Selasa (13/5/2025) seiring aksi beli investor yang terpicu kombinasi data inflasi Amerika Serikat yang lebih jinak serta pemangkasan tarif sementara antara dua ekonomi terbesar dunia. Kedua faktor ini meningkatkan harapan pemulihan permintaan energi global.
Baca Juga
AS-China Pangkas Tarif, Harga Minyak Melonjak ke Level Tertinggi Dua Pekan
Minyak Brent ditutup menguat 2,57% ke level 66,63 dolar AS per barel. West Texas Intermediate (WTI) juga terapresiasi 2,78% ke posisi 63,67 dolar AS per barel.
“Kami tidak terlalu ikut ambil bagian seperti pasar lainnya dalam reli China kemarin, jadi hari ini kami mengejar ketertinggalan. Selain itu, data pagi ini memberi ruang bagi The Fed untuk mulai mengambil langkah,” ungkap John Kilduff dari Again Capital LLC, seperti dikutip CNBC.
Inflasi tahunan AS yang hanya mencapai 2,3% pada April, terendah sejak 2021, memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve akan menahan suku bunga lebih lama. Hal ini turut menopang daya beli konsumen dan permintaan energi.
Baca Juga
Secara fundamental, pasar tetap mencermati dinamika pasokan dari OPEC+. Kartel minyak dan sekutunya berencana meningkatkan ekspor minyak pada bulan Mei dan Juni. Produksi OPEC sendiri telah meningkat lebih dari perkiraan sejak April dengan tambahan pasokan lebih dari 400.000 barel per hari.
Arab Saudi, sebagai pemain kunci dalam OPEC+, akan mempertahankan pasokan minyak ke Tiongkok di level tertinggi dalam lebih dari setahun, menurut sumber Reuters.
Dari sisi permintaan, JP Morgan menyebut bahwa pasar bahan bakar olahan tetap menunjukkan kekuatan, meskipun harga minyak mentah global telah terkoreksi lebih dari 20% sejak Januari.
“Meski harga minyak internasional telah turun 22% sejak puncaknya pada 15 Januari, harga produk olahan dan margin kilang tetap stabil,” tulis analis JP Morgan. Mereka menambahkan bahwa berkurangnya kapasitas kilang di AS dan Eropa telah memperketat pasokan bensin dan solar, serta meningkatkan risiko lonjakan harga pada musim perawatan kilang.

