Aviliani: Meski Ekonomi Memasuki Zona 'Abu-Abu', Perbankan masih Tangguh
JAKARTA, investortrust.id - Di tengah tekanan perekonomian global yang masih belum stabil, sektor perbankan Indonesia menunjukkan ketahanan yang kuat.
Wakil Ketua Umum Bidang Analisis Kebijakan Makro-Mikro Ekonomi Kadin Aviliani mengungkapkan, ketahanan ditunjukkan pertumbuhan penyaluran kredit sekitar 9% hingga Februari 2025.
Baca Juga
Menko Perekonomian: Tawaran Skema Perdagangan Indonesia-AS Pertimbangkan 5 Manfaat
"Memang rata-rata bank sekarang mengalami penurunan keuntungan akibat tak bisa menaikkan bunga kredit maupun menurunkan bunga simpanan. Ini membuat bank harus mengorbankan suku bunga kreditnya," ujar Aviliani dalam acara Halalbihalal Anggota Luar Biasa (ALB) Kadin, Jakarta Selatan, Jumat (25/4/2025).
Menurut dia, bank menghadapi dilema dalam penetapan bunga kredit. Jika bunga tinggi, permintaan kredit akan turun. Bank tentu harus menyesuaikan dengan menjaga agar bunga kredit tetap kompetitif, meski berdampak pada margin keuntungan.
Aviliani juga menekankan pentingnya peran Bank Indonesia (BI) dalam membantu sektor perbankan, khususnya dalam hal likuiditas. Ia menyoroti bahwa suku bunga acuan BI yang saat ini tersedia dirasa memiliki bunga yang terlalu tinggi.
Baca Juga
"Mungkin bunganya harus diturunkan supaya bank bisa menyalurkan kredit dengan harga yang wajar," imbuh Aviliani.
Meskipun berada dalam tekanan global, kondisi sektor riil di Indonesia dinilai masih cukup kuat. Hal ini tercermin dari rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) yang tetap rendah, sekitar 2%. "Ini menunjukkan bahwa resiliensi perusahaan-perusahaan di sektor riil kita masih bagus," kata Aviliani.
Secara keseluruhan, pertumbuhan kredit sebesar 9% di tengah kondisi ekonomi dunia yang tidak kondusif menjadi indikator bahwa sektor perbankan nasional masih bertahan dengan strategi yang lebih selektif.
Sekadar informasi, Bank Indonesia mencatat penyaluran kredit perbankan naik tipis pada Februari 2025.
Baca Juga
Melesat lebih dari 34%, Saham Aguan-Salim PANI dan CBDK Pulih?
Berdasarkan laporan BI yang bertajuk Uang Beredar dan Faktor yang Mempengaruhi pada Jumat (21/3/2025), penyaluran kredit perbankan secara keseluruhan mencapai Rp 7.684,1 triliun per Februari 2025. Catatan tersebut naik tipis dibandingkan dengan perolehan Januari 2025 pada Rp 7.639,2 triliun.
"Penyaluran kredit pada Februari 2025 tumbuh 9% secara year on year, relatif stabil dibandingkan dengan pertumbuhan bulan sebelumnya," jelas laporan tersebut.
Lebih rinci, penyaluran kredit ke korporasi mencapai Rp 4.185,4 triliun atau tumbuh 14,7% secara year on year (yoy). Sementara itu, pemberian kredit ke perorangan terpantau sebanyak Rp 3.438 triliun, naik 2,7% (yoy).

