PLN & ESDM Keliru? Bahlil Bongkar Masalah Transmisi yang Gagalkan Target EBT 2025
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia meminta maaf karena target bauran energi baru terbarukan (EBT) alias eenrgi hijau melenceng jauh dari target. Meski begitu, hal ini bukan kesalahan dari PT PLN (Persero) maupun Kementerian ESDM.
Sebelumnya, target bauran EBT dipatok 23% untuk 2025. Namun, sampai saat ini bauran tersebut baru berada di angka 15%. Target pun diturunkan menjadi 17%-20%, yang tertuang dalam Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) tentang Kebijakan Energi Nasional (KEN).
Baca Juga
Pertamina Teken 10 "Deal" untuk Pasok Gas, PGN dan PLN Kebagian Jatah Terbesar
“Selama ini ya mohon maaf karena kalau kita defisit yang harusnya target 23% sekarang baru 15%. Saya mau kasih tahu kenapa masalahnya. Salahnya bukan dari PLN, salahnya bukan dari ESDM, cuma PLN sama ESDM keliru,” kata Bahlil dalam konferensi pers RUPTL 2025-2034, Senin (26/5/2025).
Dia menjelaskan bahwa pemerintah dan PLN sebetulnya sudah memetakan lokasi pengembangan pembangkit-pembangkit berbasis EBT. Namun, yang menjadi persoalan adalah tidak adanya jaringan transmisi.
“Kita semua sudah programkan energi baru terbarukan (lokasinya) di mana, angin di mana, uap di mana, matahari di mana, tetapi ternyata tidak ada jaringannya. Ini yang membuat masalah besar,” ujar dia.
Baca Juga
Bidik 5,1 GW Panas Bumi, PLN Gandeng Swasta karena Tantangannya Tak Main-main
Berdasarkan persoalan tersebut, kata Bahlil, dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) untuk periode 2025-2034 direncanakan dibangun transmisi sepanjang 47.758 kilometer sirkuit (kms) atau setara dengan hampir 8.000 km.
“Sementara pembangunan gardu induk 107.950 MVA. Jadi ini proyek besar. Saya harapkan diadain proyek, dimaksimalkan semua industri dalam negeri, karena ini investasinya sekitar Rp 565 triliun hanya untuk transmisi. Ini opportunity bagus,” bebernya.

