Tarif Trump Tekan Dolar, Kurs Rupiah Ditutup Menguat
JAKARTA, investortrust.id - Kurs rupiah ditutup menguat pada perdagangan Senin (02/06/2025) sore ini, akibat tertekannya indeks dolar Amerika Serikat. Berdasarkan data Jisdor Bank Indonesia (BI), nilai tukar rupiah menguat tipis 3 poin (0,01%) ke level Rp 16.297 per dolar AS.
Pada perdagangan di pasar spot valas yang dipantau Yahoo Finance, mata uang Garuda juga bergerak menguat 50 poin (0,31%) ke level Rp 16.245 per dolar AS. Sebelumnya, kurs rupiah berada di posisi Rp 16.295 per dolar AS pada perdagangan terakhir pekan lalu.
Menurut Chief Economist PT Bank Central Asia Tbk (BCA) David Sumual, tertekannya indeks dolar tidak lepas dari kebijakan Presiden AS Donald Trump yang menaikkan lagi tarif impor untuk baja dan alumunium. Ia menyebut penerapan tarif ini direspons negatif oleh pasar.
"Indeks dolar tertekan sentimen negatif pascapenerapan tarif impor (baru) untuk baja dan alumunium oleh AS (Presiden Trump)," katanya kepada Investortrust, Senin (02/06/2025).
Baca Juga
Tarif Impor Baja 50%
Trump mengirim sinyal tegas ke mitra dagang global dengan menggandakan tarif impor baja menjadi 50%. Kebijakan tersebut diumumkan saat kunjungan kerja ke fasilitas Irvin Works milik US Steel di Pennsylvania, di tengah sorotan tajam terhadap akuisisi perusahaan oleh raksasa Jepang, Nippon Steel.
"Dalam pidatonya Jumat (30/05/2025) lalu, Trump menekankan akan menaikkan tarif impor baja dari 25% menjadi 50%," ujar David.
Baca Juga
Neraca Perdagangan Surplus Beruntun 60 Bulan, Capai US$ 0,16 Miliar April
Sementara dari sentimen domestik, David Sumual menyoroti rilis Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat Indonesia berbalik mengalami deflasi sebesar 0,37% secara bulanan pada Mei 2025, dibandingkan April.
"Deflasi jadi sentimen negatif. Ini dalam kaitannya dengan pelemahan daya beli," ujar David.
Sementara itu, BPS melaporkan inflasi April 2025 sebesar 1,17% secara bulanan (month to month/mtm). Sedangkan inflasi secara tahunan sebesar 1,95%, serta 1,56% secara tahun kalender.

