Wall Street Meroket, Dow Jones Terbang di Atas 1.000 Poin
NEW YORK, investortrust.id – Pasar saham AS naik tajam pada Senin waktu setempat atau Selasa (12/5/2025) WIB setelah Amerika Serikat dan China sepakat memangkas tarif sementara menyusul negosiasi akhir pekan di Swiss. Kesepakatan ini membangkitkan harapan bahwa perang dagang tidak akan menyeret ekonomi ke dalam resesi.
Baca Juga
Terobosan Perang Dagang: AS-China Sepakat Pangkas Tarif Selama 90 Hari
Indeks Dow Jones Industrial Average melonjak 1.160,72 poin atau 2,81% dan ditutup di 42.410,10. Indeks 30 saham tersebut mengakhiri sesi perdagangan mendekati level tertinggi harian, mencerminkan kuatnya minat beli. S&P 500 naik 3,26% ke 5.844,19, mencatat kenaikan lebih dari 20% sejak titik terendah intraday pada April ketika pesimisme tarif mencapai puncaknya. Kerugian tahunannya kini hanya tersisa 0,6%.
Nasdaq Composite naik 4,35% ke level 18.708,34, dengan saham teknologi yang berkaitan dengan China, seperti Tesla dan Apple,, memimpin reli. Ini menjadi hari perdagangan terbaik sejak 9 April bagi ketiga indeks utama.
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menyatakan pada Senin bahwa pembicaraan dengan China berjalan “sangat produktif” dan kedua negara sepakat untuk memangkas tarif secara sementara. Tarif AS atas barang-barang China diturunkan menjadi 30%, sementara tarif China atas barang-barang impor dari AS dipangkas menjadi 10%. Dalam wawancara dengan CNBC, Bessent mengungkapkan bahwa ia berharap dapat bertemu kembali dengan perwakilan Beijing dalam “beberapa minggu ke depan” untuk membahas kesepakatan jangka panjang yang lebih besar.
Tesla melonjak hampir 7%, Apple dan Nvidia masing-masing naik 6% dan 5%. Saham perusahaan yang sangat bergantung pada barang impor China mengalami kenaikan tajam. Best Buy melonjak 6%, Dell Technologies hampir 8%, dan Amazon lebih dari 8%.
“Pasar meroket karena investor terkejut dengan kecepatan kemajuan kesepakatan tarif dagang China,” ujar Jeff Kilburg, CEO KKM Financial, seperti dikutip CNBC.
Ketegangan antara China dan AS memuncak pada April lalu setelah Presiden Donald Trump menaikkan tarif atas China menjadi 145%. Beijing kemudian membalas dengan tarif sebesar 125% terhadap barang-barang AS. S&P 500 sempat mendekati wilayah pasar bearish, turun hampir 20% dari rekor Februari, setelah pengumuman “liberation day”. Namun saham mulai pulih setelah Trump menunda sebagian besar tarif tambahan atas negara lain, di luar China, selama 90 hari.
Baca Juga
Investor dalam reli ini bertaruh bahwa pemerintahan AS mampu mencapai kesepakatan dagang dalam tiga bulan ke depan, termasuk dengan China. Harapan tersebut mulai terealisasi. Setelah kesepakatan awal dengan Inggris diumumkan pekan lalu, kini kesepakatan sementara dengan China ternyata melebihi ekspektasi pelaku pasar.
Trump bahkan menyiratkan bahwa tarif China bisa diturunkan menjadi 80% jika negosiasi berjalan baik, dan angka 60% sempat menjadi pertimbangan, jauh di atas 30% yang akhirnya disepakati dalam pembicaraan akhir pekan. Ia menegaskan pada Senin bahwa kesepakatan final dengan Beijing tidak akan terjadi dalam waktu dekat.
Baca Juga
“Tak ada yang memperkirakan tarif China akan serendah ini. Ini kejutan positif besar,” ujar Jeff Buchbinder, kepala strategi saham di LPL Financial. “Namun ini adalah de-eskalasi, bukan kesepakatan dagang. Masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Ini hanya jeda, bukan solusi permanen. China kini mendapat perlakuan yang sama seperti negara-negara lain.”
Imbal hasil obligasi pemerintah AS melonjak karena kesepakatan China dianggap menghilangkan risiko resesi dalam waktu dekat. Selain itu, prospek pemangkasan suku bunga oleh The Fed menjadi lebih kecil. Harga minyak pun naik seiring meredanya kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi.
Saham defensif, tempat investor berlindung selama gejolak tarif, justru tertekan. Saham Coca-Cola turun 1,4%, Philip Morris anjlok 2,9%, dan AT&T kehilangan hampir 3%.

