Presiden Donald Trump Terapkan Tarif 100% Film Produksi Luar AS
WASHINGTON DC, Investortrust.id - Presiden Donald Trump dilaporkan telah menerapkan tarif baru untuk setiap film-film yang dibuat di luar Amerika Serikat.
Dalam unggahan di platform Truth Social pada Minggu malam, Trump menyatakan bahwa ia telah memberi wewenang kepada Departemen Perdagangan dan Kantor Perwakilan Dagang AS untuk mengenakan tarif sebesar 100%, "Untuk semua film yang masuk ke negara kita yang diproduksi di Luar Negeri," tulisnya seperti dikutip Washington Post, Senin (5/5/2025).
“Industri Film di Amerika sedang sekarat dalam waktu sangat cepat,” tulisnya, sambil mengeluhkan bahwa negara lain justru tengah menawarkan berbagai insentif bagi para pembuat film dan studio dari AS. “Ini adalah upaya bersama oleh negara-negara lain dan, oleh karena itu, merupakan ancaman terhadap Keamanan Nasional. Selain itu, juga soal pesan dan propaganda.”
Trump sendiri telah lama menyuarakan kekhawatiran tentang produksi film yang mulai berpindah ke luar negeri. Sesaat sebelum menjabat sebagai presiden, ia mengumumkan bahwa ia telah menunjuk aktor Mel Gibson, Jon Voight, dan Sylvester Stallone sebagai “duta khusus” untuk Hollywood guna membawa industri ini “Kembali Lebih Besar, Lebih baik dan Lebih Kuat dari Sebelumnya”.
Produksi film dan televisi di AS telah mengalami hambatan dalam beberapa tahun terakhir, mulai dari pandemi Covid-19, aksi mogok serikat pekerja Hollywood pada tahun 2023, hingga kebakaran hutan yang melanda wilayah Los Angeles baru-baru ini.
Secara keseluruhan, menurut data dari ProdPro, yang memantau aktivitas produksi, pada tahun 2024 film yang diproduksi di AS turun 26% dibandingkan dengan 2021. Survei tahunan kelompok tersebut terhadap para eksekutif yang ditanyakan mana lokasi produksi favorit mereka untuk membuat film. Ironisnya tidak ada satu pun lokasi di AS yang masuk dalam lima besar.
The Hollywood Reporter menulis Toronto, Inggris, Vancouver, Eropa Tengah, dan Australia berada di posisi teratas. Sementara California berada di urutan keenam, Georgia ketujuh, New Jersey kedelapan, dan New York kesembilan.
Masalah ini terutama terasa di California. Di wilayah Los Angeles seperti dikutip FilmLA, produksi tahun lalu turun 5,6% dibandingkan tahun 2023, dan merupakan angka terendah kedua setelah tahun 2020, saat masih pandemi. Pada Oktober lalu, Gubernur Gavin Newsom mengusulkan untuk memperluas program Kredit Pajak Film & Televisi California menjadi US$ 750 juta per tahun, naik dari US$ 330 juta.
Baca Juga
Dampak Tarif Trump dan Ketegangan AS-China Jadi Fokus Pemerintah Baru Australia
Kota-kota AS lainnya seperti Atlanta, New York, Chicago, dan San Francisco juga telah menggunakan insentif pajak agresif untuk menarik produksi film dan TV. Program-program ini dapat berupa hibah tunai, seperti di Texas, atau kredit pajak seperti yang ditawarkan oleh Georgia dan New Mexico.
Kembali ke soal tarif, belum jelas bagaimana tarif terhadap produksi film internasional akan diimplementasikan. Namun memang biasanya film-film banyak diproduksi di AS. Dan sejauh ini terdapat program insentif yang memengaruhi industri film dunia, karena semakin banyak film yang tak lagi diproduksi di California, tapi bergeser ke negara bagian lain, atau bahkan ke luar negeri yang menawarkan insentif pajak seperti Kanada dan Inggris.
Namun, tarif biasanya dirancang untuk mendorong konsumen memilih produk buatan dalam negeri. Sementara di bioskop AS, film produksi Amerika tetap mendominasi pasar domestik secara besar-besaran.
Di saat yang sama, China tengah meningkatkan produksi film dalam negerinya, yang berpuncak pada kesuksesan animasi “Ne Zha 2” yang meraup lebih dari US$ 2 miliar tahun ini. Namun, penjualan film tersebut hampir seluruhnya berasal dari Tiongkok daratan. Di Amerika Utara, film ini hanya menghasilkan US$ 20,9 juta.
Asosiasi Motion Picture (MPA) belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar pada Minggu malam. Namun melansir data dari MPA, film Hollywood masih menunjukkan dominasinya di bioskop global. Menurut MPA, film-film Amerika menghasilkan US$ 22,6 miliar dalam bentuk ekspor dan mencatat surplus perdagangan sebesar US$ 15,3 miliar pada tahun 2023.

