Rosan: Danantara Jadi Instrumen Investasi Berkelanjutan yang Mampu Ciptakan Lapangan Kerja Berkualitas
JAKARTA, Investortrust.id – Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Perkasa Roeslani, yang juga menjabat sebagai CEO BPI Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara), menegaskan bahwa pendirian Danantara merupakan langkah strategis dan historis untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan dan berkesinambungan. Hal ini disampaikannya dalam ajang DBS Asian Insights Conference 2025 yang digelar pada Rabu (21/05/2025).
Danantara resmi diumumkan oleh Presiden RI pada 24 Februari 2025 sebagai entitas investasi negara, dan dinilai sangat tepat waktu mengingat meningkatnya tensi geopolitik dan geoekonomi global. "Kita harus semakin bergantung pada kemampuan kita sendiri, menjaga pertumbuhan, dan yang paling penting menciptakan pertumbuhan yang berkesinambungan," ujar Rosan.
Menurut Rosan, Danantara memiliki dua tugas utama. Pertama, mengonsolidasikan seluruh aset BUMN ke dalam satu entitas yang tertuang dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2025 tentang BUMN. Sejak 21 Maret 2025, sebanyak 844 BUMN telah berada di bawah Danantara. Kepemilikan yang sebelumnya berada di bawah Kementerian Keuangan dan dikelola oleh Kementerian BUMN, kini seluruhnya berada di bawah dan dikelola langsung oleh Danantara, yang sepenuhnya dimiliki oleh Pemerintah Indonesia.
Kedua, Danantara berperan dalam mengoptimalkan dan menciptakan nilai dari seluruh aset BUMN. Untuk itu, dibentuk dua holding utama: satu holding operasional yang membawahi seluruh BUMN, dan satu holding investasi yang mengelola dana dan portofolio investasi strategis.
Rosan menyampaikan bahwa kehadiran Danantara memberikan fleksibilitas investasi yang lebih besar. Kini, seluruh dividen BUMN—yang diperkirakan mencapai Rp110 triliun tahun ini—dapat digunakan sepenuhnya untuk investasi. "Dengan investasi ini, kita bisa menciptakan lapangan pekerjaan berkualitas, yang menjadi salah satu prioritas utama pemerintah," ungkapnya.
Ia menambahkan, setiap tahun terdapat lebih dari 2 juta bayi lahir di Indonesia. "Kalau dihitung, setiap dua hingga tiga tahun, kita seperti melahirkan satu Singapura. Maka dari itu, penciptaan lapangan kerja menjadi krusial," tegasnya.
Fokus investasi Danantara saat ini adalah dalam negeri, meski secara regulasi tetap terbuka untuk peluang di kawasan ASEAN dan negara lain selama memberikan asas manfaat dan imbal hasil yang baik. Rosan juga menegaskan bahwa investasi Danantara bersifat jangka panjang, bukan spekulatif seperti perdagangan harian.
Dalam menjalankan fungsinya, Danantara berpegang pada prinsip-prinsip tata kelola yang baik (good governance), transparansi, akuntabilitas, dan integritas. Prinsip-prinsip ini dijalankan semaksimal mungkin agar Danantara mampu menjalankan perannya sebagai agen pertumbuhan ekonomi nasional.
"Kami ingin bekerja sama dengan sektor swasta untuk mengembangkan ekonomi Indonesia. Karena kita tahu, ekonomi kita berkembang dan kita tidak bisa berjalan sendiri," ujarnya.
Dengan total aset sekitar US$900 miliar atau setara Rp14.000 triliun yang kini berada di bawah Danantara, fokus utamanya adalah menciptakan nilai tambah dan mengoptimalkan kinerja BUMN secara lebih efisien, cepat, dan komprehensif.
Baca Juga
Prabowo Sebut Danantara Siap Investasi di Proyek Energi Strategis
"Kami yakin, dengan prinsip-prinsip yang kami terapkan, Danantara bisa meningkatkan nilai aset BUMN dan melakukan investasi yang benar, tepat sasaran, dan memberikan dampak positif jangka panjang," kata Rosan.
Ia juga menekankan bahwa keberadaan Danantara meningkatkan kepercayaan investor asing. "Banyak investor luar negeri menjadi lebih yakin karena kami juga ikut berinvestasi. Ketika pemerintah sendiri menaruh dana di proyek yang sama, itu memberi kepercayaan lebih bagi mereka," jelasnya.
Namun, Rosan mengakui tantangan tetap ada, terutama dalam hal birokrasi dan perizinan. Oleh karena itu, pemerintah terus melakukan reformasi kebijakan dan regulasi untuk menciptakan ekosistem investasi yang lebih kondusif dan kompetitif. "Kita bersaing dengan negara-negara tetangga. Maka kita harus terus melakukan pembaruan diri dari sisi kebijakan dan regulasi," jelasnya.
Target pertumbuhan ekonomi 8% pada tahun 2029 disebut Rosan sebagai hal yang realistis dan dapat dicapai melalui investasi yang berkelanjutan. Salah satu fokusnya adalah sektor energi bersih dan terbarukan sebagai bagian dari komitmen Indonesia menuju net zero emission tahun 2060, bahkan diupayakan dipercepat menjadi tahun 2050.
"Potensi energi terbarukan kita luar biasa, sekitar 3.700 GW. Tapi kapasitas terpasangnya baru 14,4 GW atau kurang dari 1%. Karena itu, investasi di sektor ini sangat prioritas," katanya. Energi surya, hidro, bioenergi, angin, dan panas bumi menjadi sektor yang paling potensial, terutama karena Indonesia memiliki cadangan panas bumi terbesar di dunia, khususnya di Jawa dan Sumatera.
"Indonesia kini semakin terbuka untuk bisnis. Tapi pada saat yang sama, kita terus mereformasi diri dalam hal kebijakan dan regulasi," ujar Rosan. "Tujuannya agar investasi yang masuk benar-benar berdampak positif bagi penciptaan lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi nasional."

