Trump Mau Borong Bitcoin US$ 2,5 Miliar, Kok Laju BTC Biasa Saja? Ini Analisanya
JAKARTA, investortrust.id - Trump Media & Technology Group (TMTG), perusahaan induk dari platform media sosial Truth Social, mengumumkan rencana untuk mengumpulkan dana sebesar US$ 2,5 miliar guna membeli Bitcoin. Pendanaan ini akan diperoleh melalui penempatan privat, yang mencakup penjualan saham senilai sekitar US$ 1,5 miliar dan obligasi konversi sebesar US$ 1 miliar. Bitcoin yang dibeli nantinya akan disimpan dalam perbendaharaan perusahaan, mengikuti strategi serupa seperti yang dilakukan oleh MicroStrategy.
Namun, meski pengumuman ini tergolong signifikan, harga Bitcoin tetap stabil. Menilik data Coinmarketcap, Rabu (28/5/2025) pukul 11.30 WIB harga BTC turun tipis 0,37% dalam 24 jam terakhir dan naik 1,72% dalam sepekan.
"Beberapa faktor diyakini menjadi penyebab minimnya reaksi pasar, salah satunya adalah skeptisisme investor terhadap kelangsungan rencana TMTG, mengingat kinerja keuangan perusahaan dan tingginya volatilitas aset kripto," ujar Analis Tokocrypto Fyqieh Fachrur kepada Investortrust, Rabu (28/3/2025).
Baca Juga
Didukung Banyak Institusi, Trump Tengah Kumpulkan Rp 40,6 Triliun untuk Borong Bitcoin
Sebelumnya, pada Selasa (27/5/2025), TMTG menyatakan telah mencapai kesepakatan dengan investor institusional terkait pendanaan tersebut. Namun, saham perusahaan yang mengoperasikan Truth Social justru turun sekitar 7% setelah pasar dibuka.
Pernyataan ini muncul setelah sebelumnya TMTG membantah laporan Financial Times yang menyebut mereka berniat mengumpulkan US$ 3 miliar untuk berinvestasi di aset kripto seperti Bitcoin. TMTG bahkan menyebut penulis laporan tersebut “bodoh” dan sumber informasinya tidak dapat dipercaya.
Meskipun pengumuman tersebut menunjukkan ketahanan minat investor terhadap aset digital, pasar tetap bergerak hati-hati. Saat ini, BTC masih tertahan di bawah level resistensi utama US$ 110.000. Kekhawatiran terbesar datang dari kemungkinan ketidakmampuan Bitcoin mempertahankan tren kenaikan.
"Potensi aksi jual oleh pemegang jangka panjang (long term holders/LTH) dapat mendorong harga turun ke bawah level support penting di US$ 106.265, yang bisa menjadi sinyal pelemahan pasar," ujar Fyqieh.
Baca Juga
Jutawan Kripto dari AS Diduga Siksa Turis Italia Selama 17 Hari untuk Curi Bitcoin
Di sisi lain, tambah Fyqieh indikator on chain menunjukkan kondisi pasar mulai memasuki wilayah "terlalu panas", mengindikasikan adanya aksi ambil untung secara berkepanjangan. Dengan harga Bitcoin hanya sekitar 2% di bawah rekor tertingginya sepanjang masa, data dari CoinGlass menunjukkan bahwa kemungkinan terjadinya short-squeeze masih tinggi karena besarnya likuiditas di sisi penjualan.
Meskipun metrik tersebut tidak serta merta menjamin penurunan harga dalam waktu dekat, namun data ini memperlihatkan potensi meningkatnya volatilitas dan aksi ambil untung dalam jangka pendek.
Lebih lanjut, menurut Fyqieh langkah Trump Media memang dapat dianggap sebagai sinyal positif atau bullish bagi pasar dalam jangka menengah, khususnya jika benar-benar terealisasi seperti strategi yang dilakukan oleh MicroStrategy.
Hal ini menunjukkan bahwa institusi masih melihat Bitcoin sebagai aset lindung nilai atau penyimpan nilai jangka panjang. Namun demikian, reaksi pasar yang relatif datar mengindikasikan bahwa pelaku pasar belum sepenuhnya yakin terhadap rencana ini.
Keraguan muncul terkait kemampuan finansial TMTG untuk benar-benar mengeksekusi pembelian dalam jumlah besar, serta kekhawatiran terhadap kemampuan Bitcoin mempertahankan tren kenaikan, terutama karena saat ini harga masih tertahan di bawah level resistensi teknikal di US$ 110.000.
Fyqieh mengatakan, untuk mendorong harga Bitcoin menembus ATH, dibutuhkan kombinasi beberapa sentimen kuat. Pertama, aksi beli riil dan transparan dari institusi besar sangat penting karena pengumuman semata tidak cukup, pasar ingin melihat bahwa pembelian benar-benar dilakukan dan disimpan dalam perbendaharaan. Permintaan terhadap Bitcoin secara spot juga harus meningkat secara konsisten, misalnya melalui aliran dana yang besar ke ETF spot atau meningkatnya adopsi oleh perusahaan publik.
"Dukungan dari faktor makroekonomi seperti penurunan suku bunga oleh The Fed, pelemahan dolar AS, atau meningkatnya ketidakpastian global juga bisa menjadi pendorong utama. Potensi short squeeze bisa mempercepat kenaikan harga, apalagi dengan banyaknya posisi short yang terbuka saat ini," ujarnya.
"Tekanan jual dari pemegang jangka panjang (long term holders/LTH) harus diminimalkan, karena aksi ambil untung yang masif dari kelompok ini berpotensi menahan laju kenaikan harga Bitcoin," tambah Fyqieh.

