Kunjungi Teluk, Trump Dapat Komitmen Investasi Arab Saudi Rp 9.840 Triliun!
RIYADH, Investortrust.id – Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah memulai kunjungannya ke kawasan Teluk pada Selasa (13/5/2025), dengan hasil mengejutkan bahwa Amerika Serikat menerima komitmen investasi sebesar US$600 miliar atau setara Rp9.840 triliun (kurs Rp16.400 per dolar AS) dari Arab Saudi ke Amerika Serikat.
Amerika Serikat juga menyetujui penjualan paket senjata kepada Arab Saudi senilai hampir US$142 miliar atau setara Rp2.328,8 triliun, sehingga komitmen penjualan alat pertahanan ini disebut oleh pihak Gedung Putih sebagai perjanjian kerja sama pertahanan terbesar yang pernah dilakukan oleh Washington.
Kesepakatan lainnya yang dibuat Trump dalam kunjungan kemarin adalah pencabutan sanksi terhadap Suriah, setelah Presiden saat ini, Ahmed Sharaa berhasil menggulingkan Presiden Bashar Assad pada Desember 2024 lalu.
Dilaporkan Japanstimes.co.jp, Rabu (14/5/2025), berbicara di sebuah forum investasi di Riyadh pada awal kunjungannya yang fokus pada kesepakatan dagang dan diplomasi, Trump mengatakan bahwa ia mengambil keputusan untuk mencabut sanksi terhadap Suriah atas permintaan Pangeran Mohammed bin Salman.
"Oh, apa pun akan saya lakukan untuk sang putra mahkota," kata Trump, yang disambut tawa dari para hadirin.
Trump mengatakan bahwa sanksi tersebut sebelumnya memiliki fungsi penting, dan sudah saatnya bagi Suriah untuk melangkah maju.
Baca Juga
Giliran Sektor Farmasi yang "Disikat", Trump Perintahkan Produsen Turunkan Harga Obat
Menteri Luar Negeri Suriah, Asaad Shibani, mengatakan melalui platform X bahwa rencana pencabutan sanksi ini menandai "awal baru" dalam jalur rekonstruksi Suriah. Trump juga dijadwalkan untuk menyapa Presiden Sharaa secara singkat di Arab Saudi pada hari Rabu, menurut pejabat Gedung Putih.
Langkah AS mencerminkan pergeseran besar dalam kebijakan luar negeri AS. Amerika Serikat menyatakan Suriah sebagai negara sponsor terorisme sejak 1979, menambahkan sanksi pada tahun 2004, dan kembali menjatuhkan sanksi tambahan setelah pecahnya perang saudara pada 2011.
Trump dan Pangeran Mahkota Saudi menandatangani perjanjian kerja sama yang mencakup sektor energi, pertahanan, pertambangan, dan sektor lainnya. Trump berupaya memperkuat hubungan dengan Arab Saudi guna meningkatkan kerja sama regional dengan Israel dan menjadi penyeimbang terhadap Iran.
Perjanjian tersebut mencakup kesepakatan dengan lebih dari selusin perusahaan pertahanan AS dalam berbagai bidang, termasuk pertahanan udara dan rudal, angkatan udara dan luar angkasa, keamanan maritim, dan komunikasi, menurut lembar fakta Gedung Putih.
Belum jelas apakah kesepakatan itu mencakup jet tempur Lockheed F-35, yang menurut beberapa sumber telah dibahas. Pangeran Saudi mengatakan bahwa nilai total paket tersebut bisa mencapai US$1 triliun ketika kesepakatan tambahan tercapai dalam beberapa bulan ke depan.
Arab Saudi merupakan salah satu pelanggan terbesar senjata AS, dan kedua negara telah lama menjalin hubungan erat berdasarkan kesepakatan: kerajaan menyediakan minyak, dan AS menyediakan perlindungan keamanan.
Namun hubungan sempat tegang setelah pembunuhan jurnalis Saudi yang berbasis di AS, Jamal Khashoggi, oleh agen Saudi di Istanbul pada tahun 2018 memicu kecaman global. Intelijen AS menyimpulkan bahwa bin Salman menyetujui operasi untuk menangkap atau membunuh Khashoggi, namun pemerintah Saudi membantah keterlibatan tersebut.
Trump tidak menyinggung insiden itu selama kunjungannya, dan menyebut bin Salman sebagai "pria yang luar biasa."
"Saya benar-benar percaya kami sangat menyukai satu sama lain," kata Trump.
Trump dijadwalkan melanjutkan kunjungannya dari Riyadh ke Qatar pada hari Rabu dan Uni Emirat Arab pada hari Kamis, dalam perjalanan yang fokus pada investasi, bukan urusan keamanan di Timur Tengah.

