Harga Minyak Dunia Melonjak, Ini Pemicunya
NEW YORK, investortrust.id - Harga minyak naik tajam pada Kamis (1/5/2025), didorong sanksi baru AS terhadap Iran serta reli saham teknologi besar yang menopang sentimen risiko. Minyak mentah AS ditutup naik 1,77% menjadi US$59,24 per barel, sementara Brent menguat 1,75% ke US$62,13.
Baca Juga
Minyak Anjlok Lebih dari 15% pada April, Penurunan Bulanan Terdalam Sejak 2021
Presiden AS Donald Trump menegaskan bahwa setiap negara atau entitas yang membeli minyak atau petrokimia dari Iran akan dikenai sanksi sekunder dan dilarang berbisnis dengan AS. Langkah ini bagian dari kampanye “tekanan maksimum” untuk menutup ekspor energi Iran.
"Negara atau individu mana pun yang membeli minyak dari Iran akan langsung terkena sanksi sekunder dan tidak akan diizinkan berbisnis dengan Amerika Serikat dalam bentuk apa pun," tegas Trump lewat media sosial Truth Social.
Scott Modell, CEO Rapidan Energy dan mantan pejabat CIA, menyebut pernyataan Trump kemungkinan ditujukan langsung ke Tiongkok yang mengimpor lebih dari 1 juta barel minyak per hari dari Iran. “Sanksi ini tidak akan efektif kecuali Gedung Putih menargetkan perusahaan milik negara Tiongkok dan infrastruktur pendukungnya,” ujarnya, seperti dikutip CNBC.
Pasar masih dibayangi potensi kelebihan pasokan. Arab Saudi menyatakan tidak berniat mengurangi produksi untuk menopang harga, dan OPEC+ dijadwalkan bertemu 5 Mei untuk membahas rencana produksi Juni.
Baca Juga
OPEC+ Pertimbangkan Percepatan Produksi, Harga Minyak Anjlok Lebih dari 2%
Sementara itu, ekonomi AS mencatat kontraksi pertama sejak 2022, menambah ketidakpastian terhadap arah kebijakan energi dan perdagangan global. Namun, sebagian analis menilai lonjakan harga saat ini lebih bersifat reaksi jangka pendek terhadap geopolitik.

