KUR BRI Dukung Kuliner Legendaris Gultik Blok M Dicicipi Pesohor Dunia
JAKARTA, investortrust.id – Gerobak kuliner Gultik alias gulai tikungan, beserta puluhan bangku plastik sudah berjejer rapi di sepanjang trotoar persimpangan Jalan Mahakam - Bulungan, Jakarta Selatan. Sepiring kecil berisi daging yang disiram kuah santan siap menyambut para pelanggan yang ingin mencicipinya.
Gultik sudah menjadi ikon kuliner di Blok M, bahkan sejak tiga dekade lalu. Tidak hanya oleh masyarakat biasa, tapi juga berbagai pesohor seperti pakar kuliner Bondan Winarno ‘Maknyuss’ dan Presiden kelima Megawati Soekarnoputri.
Teranyar bahkan CEO Nvidia Jensen Huang yang merupakan orang terkaya ke-18 di dunia dengan kekayaan US$ 95,5 miliar atau setara Rp 1.500-an triliun pernah mampir makan Gultik di Blok M pada November 2024. Ekspresi Jensen pun tampak antusias saat mencicipi gultik. "Ini sangat menakjubkan," kata Huang dilansir dari video yang diunggah Najwa Shihab di akun Instagram personalnya.
Tak mau kalah, awal bulan lalu Jackson Wang, penyanyi asal Hong Kong yang namanya mulai dikenal setelah memulai debut bersama grup boy band asal Korea Selatan, GOT7, besutan JYP Entertainment juga mencicipi Gultik.
Generasi 90-an Jakarta memang tidak asing lagi dengan Gultik alias gulai tikungan. Kuliner satu ini bisa ditemukan di sepanjang tikungan Bulungan Blok M, di Jalan Mahakam, dekat dengan bundaran SMA 6, GOR Bulungan, dan Blok M Plaza. Kawasan ini dulu merupakan tempat nongkrong kawula muda yang mencari makanan enak dan murah meriah.
“Sepiring gultik biasanya dinikmati bersama makanan pendamping seperti sate tusuk, sate telur puyuh, kulit ayam, dan ampela,” kata Purnomo salah satu pedagang Gultik di Blok M kepada investortrust.id baru-baru ini.
Baca Juga
Untuk harganya terbilang murah, yakni Rp 10.000 per porsi dan buka dari pukul 16.00 – 05.00 WIB setiap hari. Tak heran, Gultik tetap bertahan bahkan di tengah fluktuasi daya beli masyarakat yang semakin menurun. Untuk omzet, dalam sebulan ia bisa mengantongi bersih Rp 20 juta dari tiga lapak angkringan yang dimilikinya yakni 06, Mas Eko, dan Bang Gusto.
Tiga lapak angkringan tersebut, cerita Purnomo dilakukan dengan menjalin sinergi dengan sejumlah temannya sesama pedagang Gultik. Di mana, konsep jualannya bergantian setiap seminggu sekali.
“Sejak Covid 2020, banyak pedagang Gultik yang baru. Dulu cuma 17 sekarang sudah 50 lebih pedagang Gultik. Kalau dulu kan Gultik terkenal dari Solo, sekarang pedagangnya sudah dari mana-mana asalnya,” ujar Purnomo yang merupakan ketua kluster Gultik Blok M.
Taher (41), pembeli Gultik yang merupakan karyawan di wilayah Blok M mengaku senang makan Gultik selepas pulang kerja. "Rasanya enak dan harganya bersahabat. Apalagi bisa tambah sate-satean, nikmat meriah dan murah," katanya.
Kluster Gultik
Berbekal kesadaran tersebut, Purnomo pun berinisiatif untuk mulai mengumpulkan sejumlah temannya sesama pedagang Gultik ke dalam satu kluster industri Gultik Bulungan. Purnomo bercerita awal mulanya ia berjualan Gultik tak lain berkat dukungan dari Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang diberikan oleh PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI). Sebelumnya ia merupakan petugas keamanan di TransCorp.
"Saya mulai bergabung dengan teman-teman di tahun 2007-2008. Waktu itu, sempat ada peralihan dan saya mulai mengkoordinasi dengan tokoh lokal serta pihak terkait untuk bisa membuka lapak di sini," katanya.
Ia juga bercerita tentang pengalaman masa lalu yang mempertemukannya dengan berbagai tokoh penting, mulai dari artis hingga pejabat yang sering mampir di lapaknya, seperti Deddy Yusuf dan Anang – Krisdayanti.
Purnomo juga pernah mengajukan pinjaman permodalan ke BRI sebesar Rp 100 juta, dengan masa pinjaman (tenor) selama dua tahun. Pinjaman tersebut digunakan untuk beli alat-alat masak baru ataupun mengganti alat lama yang sudah rusak.
“Tujuh atau delapan bulan lagi KUR saya sudah lunas. Nanti mau ambil KUR lagi untuk bangun usaha Gultik di Semarang,” ujar pria kelahiran Sukoharjo, 5 Mei 1984 tersebut.
Melalui kluster yang didukung oleh BRI, Purnomo berharap ada kolaborasi bersama BRI lewat sistem kluster ini. Supaya ia dan kawan-kawannya sesama pedagang Gultik bisa mengembangkan pasar.
Selain itu, ia juga berharap pihak BRI dapat membantunya melalui berbagai pelatihan yang bisa dimanfaatkannya dalam mengembangkan usaha, seperti cara berjualan online dan beragam ilmu baru. Di mana, dukungan itu bakal sangat berguna bagi dirinya dan teman-teman di kluster pedagang Gultik Bulungan.
"BRI juga sudah mendukung sih, biasa kalau ada acara-acara sering pesan dari kami,” kata Purnomo yang juga melayani jasa pesanan.
Baca Juga
2,6 juta Pelaku UMKM Dapatkan Akses Pembiayaan KUR BRI di Sepanjang Tahun 2024
Target Penyaluran KUR
Kementerian Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) menyampaikan target penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) tahun 2025. Menteri UMKM Maman Abdurrahman menjabarkan target penyaluran KUR tahun ini sebesar Rp 300 triliun dengan penyaluran kepada sektor produksi sebesar 60%. Lalu pemerintah membidik target debitur baru 2,34 juta orang, target debitur graduasi 1,17 juta orang, dan kredit di bawah Rp 100 juta tanpa agunan tambahan.
"Artinya, hari ini kami dari Kementerian UMKM, berdasarkan amanah dari Komite Pembiayaan UMKM, inilah ada lima target kami," ujarnya dalam rapat bersama Komisi VII di Gedung DPRJakarta, Selasa (18/3/2025).
Maman mengungkapkan, realisasi KUR sepanjang tahun 2024 sebesar Rp 282,4 triliun. Capaian tersebut melebihi target Kementerian yang sebesar Rp 280 triliun. Jika dilihat sejak 2015 hingga tahun 2024, penyaluran KUR tertinggi pada tahun 2022.
Sementara itu, BRI mempertegas komitmennya dalam memperkuat ekonomi kerakyatan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui penyaluran KUR.
Hingga kuartal I tahun 2025, BRI telah menyalurkan KUR senilai Rp 42,23 triliun atau setara 24,13% dari alokasi tahun 2025 sebesar Rp 175 triliun yang ditetapkan Pemerintah. Selama periode tersebut, sebanya 975 ribu debitur pengusaha UMKM telah memperoleh manfaat KUR yang disalurkan BRI.
Tak hanya dari sisi nilai kredit yang disalurkan dan jumlah debitur, BRI juga memastikan penyaluran KUR diarahkan ke sektor sektor strategis yang berperan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, yang tercermin dari penyaluran KUR sebesar 62,43% ke sektor produksi.
BRI konsisten menerapkan manajemen risiko yang prudent dalam penyaluran KUR. Per Maret2025, rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) tercatat sebesar 2,29%, mencerminkan portofolio yang sehat dan pengelolaan risiko yang optimal.
Corporate Secretary BRI Agustya Hendy Bernadi menyampaikan bahwa penyaluran KUR merupakan bagian dari strategi perusahaan dalam memperluas akses pembiayaan yang inklusif dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
“Penyaluran KUR yang berfokus pada sektor produktif merupakan bentuk keberpihakan nyata BRI terhadap pembangunan ekonomi nasional. BRI meyakini bahwa pembiayaan yang tepat sasaran dapat menciptakan multiplier effect yang signifikan, khususnya dalam mendorong kemandirian usaha dan membuka lapangan pekerjaan,” ujarnya.

