Indonesia Berbalik Deflasi 0,37% Mei 2025
JAKARTA, investortrust.id - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan Indonesia pada Mei 2025 berbalik mengalami deflasi bulanan sebesar 0,37%, dibanding April 2025. Pada Mei tahun ini deflasi bulanan juga tercatat lebih dalam dari deflasi Mei 2024.
"Namun, Indonesia mengalami inflasi secara tahunan (year on year/yoy) sebesar 1,60%. Secara tahun kalender (year to date/ytd) juga masih mengalami inflasi 1,19%," kata Deputi Statistik bidang Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini, di kantor pusat BPS, Jakarta, Senin (02/06/2025).
Sementara itu, BPS melaporkan inflasi April 2025 sebesar 1,17% secara bulanan (month to month/mtm). Sedangkan inflasi secara tahunan sebesar 1,95%, serta 1,56% secara tahun kalender.
Baca JugaNeraca Perdagangan Surplus Beruntun 60 Bulan, Capai US$ 0,16 Miliar April
Deflasi secara bulanan pada Mei 2025, lanjut Pudji, merupakan yang terdalam sejak September 2022. "Untuk deflasi yang terjadi pada Agustus (2022) tercatat sebesar 2,9% secara bulanan," paparnya.
Penyumbang Deflasi Bulanan Terbesar Mamin
Kelompok penyumbang deflasi terbesar yaitu kelompok makanan dan minuman (mamin) serta tembakau. Deflasi pada kelompok ini sebesar 1,4% secara bulanan, dengan andil deflasi sebesar 0,41% secara bulanan.
“Komoditas yang mendorong deflasi pada kelompok ini adalah cabai merah dan cabai rawit. Masing-masing memberikan andil deflasi sebesar 0,12%,” ujar Pudji.
Komoditas lain yang memberikan andil deflasi yaitu bawang merah dengan andil deflasi sebesar 0,09%, ikan segar dengan andil deflasi sebesar 0,05%, dan bawang putih dengan andil deflasi sebesar 0,04%. Selain itu, daging ayam ras dengan andil deflasi sebesar 0,01%.
Sementara itu, komoditas yang mengalami inflasi yaitu tomat dengan andil inflasi sebesar 0,03%. Selain itu, tarif pulsa ponsel dengan andil inflasi sebesar 0,02% dan tarif angkutan udara dengan andil inflasi sebesar 0,01%.
Inflasi Bulanan Komponen Inti
Berdasarkan komponen secara bulanan, deflasi terjadi pada dua komponen yaitu komponen harga diatur pemerintah dan komponen harga bergejolak. Komponen harga diatur pemerintah tercatat deflasi sebesar 0,02% dengan andil deflasi sebesar 0,01%. Sementara itu, komponen harga bergejolak mengalami deflasi sebesar 2,48% dengan andil deflasi sebesar 0,41%.
Sedangkan inflasi bulanan terjadi pada komponen inti. Pada Mei 2025, inflasi komponen inti tercatat sebesar 0,08% dengan andil inflasi sebesar 0,05%.
“Komoditas utama yang dominan memberikan andil inflasi komponen inti yaitu tarif pulsa ponsel, emas perhiasan, dan kopi bubuk,” kata dia.
Deflasi Bulanan Terdalam Gorontalo
Berdasarkan wilayah, terdapat 31 provinsi mengalami deflasi dan tujuh provinsi mengalami inflasi. Deflasi terdalam terjadi di Gorontalo yaitu sebesar 1,68%.
“Inflasi tertinggi terjadi di Papua Pegunungan. Inflasinya mencapai 0,91%,” ujar dia.
Inflasi Tahunan Diredam Ayam Ras
Secara tahunan, BPS mencatat terjadi perlambatan inflasi pada Mei 2025 menjadi 1,6%. Inflasi secara tahunan pada April 2025 mencapai 1,95%.
Laju inflasi secara tahunan ini antara lain diredam oleh komoditas daging ayam ras. "Perlambatan infasi itu karena beberapa komoditas utama. Di antaranya ada daging ayam ras dengan tingkat deflasi 8,57% secara tahunan dan andil deflasi 0,14% secara tahunan,” kata Pudji.
Baca Juga
Selain itu, lanjut Pudji, komoditas lain yang memperlambat inflasi yaitu bawang merah dengan deflasi sebesar 15,26% secara tahunan. Andil komoditas ini ke deflasi yaitu 0,1% secara tahunan.
Cabai merah juga menjadi komoditas yang memperlambat inflasi tahunan. Cabai ini mengalami deflasi sebesar 21,17% secara tahunan, dengan andil sebesar 0,09% secara tahunan. “Komoditas-komoditas ini yang menjadi pendorong terjadinya perlambatan inflasi secara tahunan pada Mei 2025,” tandas dia.
Secara keseluruhan, lanjut dia, inflasi tahunan pada Mei 2025 didorong oleh inflasi pada komponen inti sebesar 2,4%. Komoditas yang memberi andil inflasi pada Mei 2025 yaitu emas perhiasan, kopi bubuk, dan minyak goreng.
Sementara kelompok harga diatur pemerintah mencatatkan inflasi sebesar 1,36% secara tahunan, dengan andil 0,27% secara tahunan. Adapun harga bergejolak mengalami deflasi sebesar 1,17% secara tahunan, dengan andil deflasi 0,2% secara tahunan.
BPS mencatat, lanjut Pudji, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya menjadi penyumbang inflasi tahunan. Kelompok ini mencatatkan inflasi sebesar 9,24% secara tahunan dengan andil inflasi 0,59%. Komoditas utama penyumbang inflasi dari kelompok tersebut adalah emas perhiasan, dengan andil terhadap inflasi 0,47% secara tahunan.
“Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya jadi penyumbang inflasi tahunan terakhir pada Agustus 2020. Saat itu, kelompok ini menjadi penyumbang inflasi tahunan 0,45%,” kata dia.

