Laba Perusahaan AS Turun Tajam, Sinyal Perlambatan Ekonomi
WASHINGTON, investortrust.id – Laba korporasi Amerika Serikat merosot. Laporan pendapatan menunjukkan penurunan laba perusahaan terbesar sejak tahun 2020.
Laporan BEA (Bureau of Economic Analysis) menunjukkan bahwa laba dari produksi saat ini, dengan penyesuaian inventaris dan depresiasi, turun sebesar 118,1 miliar dolar AS pada kuartal pertama, suatu penurunan kuartalan terbesar sejak akhir 2020. Sebagai pembanding, laba melonjak 204,7 miliar dolar pada kuartal sebelumnya.
Baca Juga
Laba perusahaan domestik non-keuangan anjlok 96,7 miliar dolar. Sejumlah perusahaan besar di sektor maskapai, ritel, hingga manufaktur otomotif kini memilih tidak memberikan proyeksi keuangan untuk 2025 karena ketidakpastian terkait kebijakan tarif.
Penyesuaian strategi impor juga mendorong defisit perdagangan ke rekor tertinggi, yang turut menekan PDB kuartal pertama ke minus 0,2% dalam estimasi kedua BEA. Sebelumnya, pertumbuhan sempat diperkirakan minus 0,3%. Sebagai perbandingan, ekonomi AS tumbuh 2,4% pada kuartal IV 2024.
Pertumbuhan konsumsi juga direvisi turun menjadi hanya 1,2% dari sebelumnya 1,8%, mengindikasikan bahwa daya beli rumah tangga tidak setangguh prediksi awal. Sementara itu, indikator lain seperti gross domestic income dan gross domestic output juga mencatat kontraksi 0,2% pada kuartal pertama.
“PDB kemungkinan akan kembali menyusut pada kuartal kedua atau setidaknya tetap lemah, tapi kami memperkirakan ekonomi belum akan masuk ke zona resesi,” ujar Bill Adams, Kepala Ekonom di Comerica Bank, dikutip dari Reuters, Jumat (30/5/2025).
Baca Juga
Ekonomi AS Kuartal I-2025 Susut 0,3%, Ketidakpastian Tarif Trump Bayangi Aktivitas Bisnis
Di tengah data ekonomi yang melemah, imbal hasil obligasi AS turun, sementara indeks saham di Wall Street justru menguat, mencerminkan ekspektasi investor atas potensi pelonggaran moneter. Nilai tukar dolar sempat menguat singkat sebelum akhirnya melemah terhadap sekeranjang mata uang utama.

