100 Hari Pertama Trump Jadi yang Terburuk bagi Pasar Saham Sejak Era Nixon
WASHINGTON DC, Investortrust.id – Masa 100 hari pertama Presiden Donald Trump di Gedung Putih menjadi periode terburuk bagi pasar saham Amerika Serikat, jika dilihat dari kinerja bursa pada awal masa jabatan presiden sejak tahun 1970-an.
Alih-alih bakal terjadi "bull market" seperti yang diharapkan setelah pemilihan, 100 hari pertama Trump justru membuka masa yang penuh ketidakpastian bagi pasar saham. Situasinya dinilai mirip dengan era resesi Nixon tahun 1970-an, demikian dilaporkan CNBC.com, Senin (28/4/2025).
Tengok saja Indeks S&P 500 yang secara akumulasi telah mengalami penurunan sebesar 7,9% dari saat Trump dilantik pada 20 Januari 2025, hingga penutupan perdagangan pada 25 April 2025. Mengutip CFRA Research, kinerja S&P disebutkan sebagai kinerja 100 hari pertama terburuk kedua sejak awal masa jabatan kedua Presiden Richard Nixon, menurut data CFRA Research.
Sekadar informasi, pada periode awal Nixon menjabat, terjadi kejatuhan indeks S&P 500 hingga sebesar 9,9% pada tahun 1973. Anjloknya indeks S&P 500 terjadi setelah serangkaian kebijakan ekonomi Nixon untuk mengatasi inflasi justru malah memicu resesi 1973-1975. Nixon sendiri belakangan mengundurkan diri pada 1974, akibat meruyaknya skandal Watergate.
Baca Juga
Menurut CFRA, biasanya secara rata-rata, indeks S&P 500 naik sebesar 2,1% dalam 100 hari pertama presiden mana pun. Setidaknya jika melihat data historis dari tahun 1944 hingga 2020.
Tingkat penurunan pasar saham di awal masa kepresidenan Trump sangat kontras dengan euforia awal setelah kemenangan pemilunya pada November tahun lalu. Saat itu S&P 500 melonjak ke rekor tertinggi karena keyakinan pelaku pasar bahwa mantan pengusaha tersebut akan membawa pemotongan pajak dan deregulasi yang sangat merekaharapkan. Dari hari pelaksanaan Pilpres AS hingga Hari Pelantikan, S&P 500 tercatat naik 3,7%, lagi-lagi mengutip data CFRA.
Namun, reli tersebut segera melemah dan kemudian merosot tajam karena Trump menggunakan hari-hari awal kepemimpinannya untuk mendorong janji-janji kampanye lain yang sebelumnya kurang diperhitungkan oleh para investor, utamanya pendekatan agresif terhadap perdagangan internasional yang dikhawatirkan akan meningkatkan inflasi. Penerapan tarif yang diumumkan pada 2 Paril 2025 lalu dikhawatirkan bakal mendorong Amerika Serikat ke dalam resesi.
Pada periode bulan April 2025, Indeks S&P 500 anjlok dan kehilangan 10% hanya dalam dua hari dan sempat memasuki wilayah "bear market", begitu pengumuman tarif "resiprokal" oleh Trump.
Trump kemudian menarik kembali sebagian pengumuman tersebut dengan memberikan masa tenggang 90 hari kepada negara-negara untuk merundingkan kembali kesepakatan, yang sedikit meredakan kekhawatiran para investor. Namun banyak pihak masih khawatir akan adanya penurunan lebih lanjut.
"Semua orang sedang mencari titik terendah," kata Jeffrey Hirsch, editor Stock Trader’s Almanac. "Saya masih berpikir ini hanya reli pasar yang mengarah ke bearish, sebuah kenaikan jangka pendek. Saya belum yakin kita sudah keluar dari masa sulit ini, mengingat masih adanya ketidakpastian dan kurangnya kejelasan di Washington."
Indeks S&P 500, yang mencapai rekor penutupan tertinggi di angka 6.144,15 pada 19 Februari 2025, ditutup pada angka 5.525,21 pada hari Jumat 25 April 2025. Semua kenaikan yang terjadi sejak pemilu November telah terhapus.
Sebagai catatan, Trump masih memiliki satu hari perdagangan tersisa untuk mencoba memperbaiki kinerjanya.
Secara teknis, 100 hari pertamanya berakhir pada hari Selasa 29 April 2025. Jika indeks S&P 500 berhasil menguat pekan ini, Trump mungkin hanya mencatatkan kinerja 100 hari terburuk ketiga, sedikit lebih baik dibandingkan penurunan 6,9% yang terjadi pada masa 100 hari pertama Presiden George W. Bush pada tahun 2001.

